Dirbinmas Kombes Pol Suwandi Prihantoro: Filosofi Tongkat Ibaratkan Kebersamaan Polri‑Masyarakat Saling Menopang Menjaga Bali
Kabarpolri.com. BALI – Di tengah dinamika sosial, pariwisata, dan keragaman budaya Pulau Dewata, Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Bali Kombes Pol. Suwandi Prihantoro, S.I.K., M.Han. menghadirkan sebuah pemikiran baru yang penuh kearifan lokal: filosofi Tongkat Kebersamaan, sebagai dasar memperkokoh hubungan antara Polri dengan seluruh lapisan masyarakat Bali.
Filosofi ini bukan sekadar ungkapan semata, melainkan panduan nyata dalam membangun keamanan yang tidak hanya ditanggung oleh aparat kepolisian saja, melainkan di jalankan bersama‑sama oleh seluruh warga pulau terkenal dengan sebutan Pulau Dewata itu.
Melalui penjelasan nya, Dirbinmas Polda Bali, Kombes Pol Suwandi Prihantoro menjelaskan asal‑usul makna simbol tongkat tersebut. Dirinya menyampaikan bahwa tongkat secara umum dikenal sebagai penyangga ketika seseorang berjalan di jalan yang licin, menanjak, atau terjal.
Satu tongkat memang bisa membantu berjalan, namun jika ada dua tongkat yang saling menopang satu sama lain, langkah akan menjadi lebih tegak, seimbang, dan tidak mudah terjatuh .
“ Begitulah hubungan kita di Bali: Polri adalah tongkat bagi masyarakat, dan masyarakat adalah tongkat bagi Polri. Kita tidak boleh merasa mampu berdiri sendirian ,” ujar Kombes Pol Suwandi Prihantoro, Jumat (09/10/2026).
Tidak cuma itu, Perwira Menengah Polri tiga melati dibahu itu juga mengutip pepatah bijak “Sedia payung sebelum hujan, sedia tongkat sebelum berjalan”, untuk menjelaskan bahwa semangat saling menopang harus dibangun sejak dini, bukan hanya ketika masalah atau gangguan keamanan sudah muncul di tengah masyarakat.
Menurutnya, kesalahan yang sering terjadi adalah ketika aparat hanya datang setelah ada kerusuhan, konflik, atau kejadian tidak aman, padahal fondasi keamanan yang kuat tumbuh dari kebersamaan sehari‑hari, percakapan hangat antara Bhabinkamtibmas dengan warga, kerja sama dengan Pecalang sebagai penjaga desa adat, serta keterlibatan tokoh agama dan budaya dalam menjaga kerukunan di setiap wilayah Bali.
Dikatakan juga oleh Kombes Pol. Suwandi Prihantoro. Filosofi Tongkat Kebersamaan juga menegaskan dua prinsip utama dalam tugas pembinaan masyarakat. Pertama, Polri sebagai tongkat pendukung, hadir untuk mendengarkan aspirasi, membantu menyelesaikan persoalan warga, melindungi kelompok rentan, serta menjaga ketertiban dengan pendekatan yang menghormati kearifan lokal Bali.
Kedua, masyarakat sebagai tongkat pendukung Polri: berperan aktif melakukan deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan, menyampaikan informasi kepada petugas, ikut menjaga lingkungan, dan bersama‑sama melestarikan nilai‑nilai damai yang menjadi identitas Bali.
“ Ketika salah satu tongkat tergelincir, tongkat yang lain harus siap menahan agar tidak jatuh. Itulah kekuatan sejati Bali. Bukan dari gedung‑gedung mewah tempat wisata, melainkan dari hati warga dan aparat yang bersatu ,” tegas Kombes Pol Suwandi Prihantoro dalam penjelasannya.
Selanjutnya, Dirbinmas juga menghubungkan filosofi ini dengan program‑program Binmas Polda Bali yang telah berjalan: mulai dari pembinaan Tiga Pilar di tingkat desa, penguatan peran Bhabinkamtibmas di setiap wilayah, silaturahmi rutin dengan pemangku adat, hingga kolaborasi dengan komunitas‑komunitas pemuda, pelaku pariwisata, dan pekerja transportasi lokal.
” Semua program tersebut bertujuan agar semangat “saling menopang” tidak hanya terdengar di ruang rapat, tetapi benar‑benar terasa di lingkungan tempat warga tinggal sehari‑hari.
Di akhir keterangan nya, Kombes Pol Suwandi Prihantoro menegaskan bahwa filosofi Tongkat Kebersamaan akan terus dijadikan arahan bagi seluruh jajaran Bidang Pembinaan Masyarakat Polda Bali.
“ Dua tongkat, satu arah. Dua kekuatan, satu tujuan: Bali yang aman, damai, dan sejahtera karena kita saling menopang. Mari kita jalankan bersama, mulai dari lingkungan terdekat kita masing‑masing,” tutupnya (hy/af/man).
